Apa Itu Herbal?

Kata ‘herbal’ sudah tak asing lagi terdengar di telinga kita. Tapi, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan herbal itu? Apakah herbal sama sekali tak tersentuh dengan proses kimiawi? Yuk, cari tahu untuk lebih jelasnya!

Seringkali, herbal diasosiasikan sebagai tanaman obat. Padahal, saripati hewan juga bisa dikategorikan sebagai produk herbal. Jadi, obat herbal murni dapat bersumber dari saripati tumbuhan atau hewan yang memiliki kegunaan untuk pengobatan, tanpa adanya campuran bahan kimia buatan (sintetis).

Obat Herbal yang bersumber dari tumbuhan (nabati) antara lain kurma, bawang putih, jahe, jintan hitam (habbatussauda), mengkudu dan lain-lain. Sementara itu, obat herbal yang berasal dari hewan (hewani) di antaranya madu, propolis, minyak ikan, teripang dan sebagainya.

Selain kandungan, obat herbal dan kimia memiliki konsep berbeda dilihat dari sisi cara menangani suatu penyakit. Dalam pengobatan medis, suatu penyakit diakibatkan oleh mikroorganisme, contohnya bakteri, virus, kuman, dan jamur. Suatu penyakit diobati dengan membunuh mikroorganisme tersebut. Caranya dengan menggunakan obat ‘kimia’.

Sementara itu, dalam pengobatan herbal, keberadaan mikroorganisme tersebut dianggap tak terelakkan. Yang jadi masalah adalah daya tahan tubuh dan antibodi manusia tidak mampu mengatasi gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh mikroorganisme tersebut.

Obat herbal menggunakan bahan-bahan alami dari tumbuh-tumbuhan atau hewan. Jika daya tahan tubuh baik, seseorang tidak akan jatuh sakit. Namun, terkadang kekebalan tubuh menurun karena berbagai faktor, utamanya adanya jutaan toksin atau racun di dalam tubuh manusia.

Racun-racun tersebut masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, makanan, atau minuman. Dari mana sumber-sumber toksin berasal? Bisa dari makanan berpengawet, logam berat, zat antibiotik, MSG hingga pencemaran udara.

Toksin-toksin di dalam tubuh tersebut harus dikeluarkan. Caranya melalui detoksifikasi. Detoksifikasi dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan alami dari alam. Biasanya, bahan-bahan alami yang digunakan adalah saripati tumbuh-tumbuhan atau hewan. Jika toksin-toksin di dalam tubuh berhasil dikeluarkan, maka kekebalan tubuh akan meningkat dengan sendirinya sehingga mampu melawan penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme.

Dalam perkembangannya, herbal dikategorikan sebagai salah satu bentuk pengobatan alternatif. Selain pengobatan, herbal juga memiliki berbagai kegunaan lainnya, seperti kuliner dan dalam beberapa kasus bersifat spiritual. Satu hal yang pasti, di tengah kemajuan ilmu kedokteran seperti saat ini, alam secara alaminya masih dan terus menyediakan jawaban dari berbagai penyakit yang melanda penghuni dunia.

Beda Herbal dengan Jamu

Herbal dan jamu? Apakah keduanya sama atau berbeda? Mungkin, selama ini Anda menganggap kalau jamu ya herbal. Begitu pula sebaliknya. Ternyata, herbal dan jamu berbeda, lho!

Dalam sebuah riset kesehatan dasar (riskesdas) tahun 2015, ditemukan fakta bahwa 49,53 % penduduk Indonesia menggunakan jamu. Tujuannya untuk menjaga kesehatan maupun mengobati penyakit. Artinya, hampir setengah penduduk Indonesia mengonsumsi jamu sebagai bahan pengobatan.

Di sisi lain, obat herbal pun berkembang luas di tanah air. Iklan-iklan mengenai herbal sering ditemui di berbagai media, termasuk media sosial atau aplikasi chatting. Tentu saja, ini merupakan kabar gembira bagi produsen dan konsumen Indonesia karena makin beragamnya cara pengobatan.

Selain itu, terkadang ditemui di pasaran produk dengan label obat kuat. Pada kemasan produk tersebut dijumpai logo ranting dalam lingkaran. Lalu, tertulis ‘jamu’. Produk-produk selain obat kuat tadi juga terkadang tertulis demikian. Lho, kok bisa begitu?

Perlu dipahami, herbal dan jamu memiliki perbedaan. Lantas, di mana letak perbedaannya? Perbedaanya terletak pada pengujian senyawa aktifnya. Bahan baku jamu diperoleh dari tanaman herbal. Tanaman herbal itu diolah sehingga menghasilkan banyak senyawa. Sebagian senyawa tersebut memiliki manfaat untuk kesehatan. Pada umumnya, jamu tidak melalui tahap uji sebelum dipasarkan. Ramuan sebagian besar jamu hanya didasarkan pada pengalaman secara turun-temurun.

Sementara itu, umumnya obat herbal harus menempuh beberapa tahap uji yang panjang. Tujuannya menemukan satu manfaat obat yang merupakan senyawa paling aktif. Bila telah diperoleh ekstraksi senyawa aktif tersebut, maka akan diuji kembali. Setelah itu, senyawa tersebut dikemas dalam sebuah produk untuk dipasarkan.

Cara Aman Mengonsumsi Herbal

Banyak ramuan mengklaim ampuh. Namun, bila tidak didahulukan dengan cara mengonsumsinya yang benar, maka khasiatnya bisa menurun atau bahkan membahayakan kesehatan.  Meski demikian, obat-obatan herbal cukup efektif menyembuhkan sakit tanpa efek samping signifikan.

Sayangnya, ada beberapa hal yang bisa menyebabkan khasiat obat herbal menurun. Intinya, cara mengonsumsi obat herbal turut menentukan efektivitas khasiatnya. Di bawah ini adalah beberapa cara mengonsumsi obat herbal yang aman:

  • Ikuti petunjuk pemakaian dan dosis yang tercantum di kemasan.
  • Simpan obat-obatan herbal jauh dari pancaran sinar matahari dan tempat kering.
  • Perhatikan pula batas kedaluarsanya karena sebagian herbal memiliki tanggal kadaluarsa.
  • Pilihlah produk herbal yang memiliki nomor registrasi di BPOM. Tapi ingat, terdapat beberapa nomor registrasi yang dipalsukan.
  • Perhatikan kondisi kemasan. Usahakan segel kemasan tertutup rapat. Jika terlihat mencurigakan, misalnya ada kesalahan cetak dalam kemasan, waspadalah.
  • Jangan terlalu cepat percaya pada produk herbal yang menjanjikan khasiat dengan cepat.
  • Jangan membeli produk herbal sembarangan.
  • Sebaiknya, belilah produk herbal di toko obat resmi atau apotek.
  • Hubungi layanan konsumen produk tersebut jika ada informasi yang kurang jelas.
  • Tak ada salahnya bila Anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsi obat herbal. Sebagian orang sebaiknya berhati-hati atau menghindari untuk mengonsumsi obat herbal, misalnya orang yang akan menjalani operasi.

Ini Dia Ragam Khasiat Kurma

Inilah salah satu buah yang lebih sering terlihat di bulan puasa. Ya, buah itu adalah kurma. Buah yang berasal dari Timur Tengah ini memiliki banyak khasiat bagi tubuh. Apa saja ya?

Sebelum mengetahuinya, ada baiknya kita mengenal karakteristik buah ini terlebih dahulu. Kurma termasuk ke dalam tanaman palma. Tinggi pohonnya sekitar 15 hingga 25 meter. Buahnya memiliki panjang 3–7 cm. Berdiameter 2–3 cm, buah kurma memiliki biji tunggal. Buah yang disunahkan untuk dikonsumsi ini sarat manfaat untuk kesehatan.

Nah, di bawah ini adalah beberapa khasiat kurma:

  • Kurma memiliki kandungan kalium yang bisa mengurangi risiko stroke sebesar 39%.
  • Kalium juga berfungsi menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.
  • Kurma mengandung serat yang mudah larut sehingga memudahkan pencernaan.
  • Mengonsumsi dua buah kurma yang direndam dalam susu dan campurkan beberapa tetes madu akan menjaga libido seseorang, wow!
  • Sebanyak 20 hingga 25 miligram magnesium pada kurma bisa mengurangi tekanan darah tinggi.
  • Kurma mengandung fosfor yang berguna untuk kekuatan otak.
  • Zat besi pada kurma penting untuk mencegah anemia.
  • Kurma mengandung banyak mineral yang penting untuk kekuatan tulang.
  • Kurma segar memiliki kandungan protein dan lysine yang berfungsi sebagai stimulan otot untuk berkembang.
  • Kurma dapat dijadikan sumber energi yang efektif.
  • Kurma merupakan sumber antioksidan yang melindungi tubuh dari radikal bebas.

 

Tinggalkan Balasan